Warung Bebas

Selasa, 30 Oktober 2012

Sejarah kain penutup Kabah (Kiswah)


KiswahAsal mula  Kiswah
Jika kita melihat Kabah, maka kita akan melihat bahwa kabah ditututupi sebuah kain yang disebut Kiswah. Kain penutup ini diganti setiap setahun sekali, tepatnya pada musim haji. Bagaimana sejarah kiswah atau kain penutup Kabah bermula?

Secara bahasa, kiswah berarti pakaian atau kain yang menutupi Kabah.
Pada masa sebelum Islam, kiswah Kabah selalu berganti-ganti, baik jenis bahannya maupun warnanya. Kiswah Kabah pernah terbuat dari kulit unta, kain halus dan tipis, kain sutra sampai kain buatan Yaman yang ditenun dengan bambu. Warna kiswah pun beragam, ada yang berwarna merah dan bergaris, putih, hijau, hingga kini berwarna hitam. Pada masa setelah Islam, Rasulullah saw tidak mengganti kiswah yang menempel di Kabah hingga kiswah tersebut terbakar disebabkan oleh seorang wanita yang ingin mengasapi kiswah dengan wewangian. Kemudian kiswah itu diganti dengan kain buatan Yaman. Pada masa Khulafaurrasyidin, kiswah dibuat dari kain qabathi yang berwarna putih halus dari Mesir. Baru pada tahun 810 Hijriyah, kiswah berwarna hitam dan mulai dibuat dengan motif ukiran yang dipasang di bagian luar Kabah yang dinamakan al-Burq.

Dahulu, kiswah terbuat dari sutra hitam yang didatangkan dari Mesir. Kiswah tersebut diantarkan lewat jalan darat menggunakan tandu yang disebut mahmal. Kiswah dan hadiah-hadiah lain di dalam mahmal datang bersamaan dengan rombongan haji dari Mesir yang dipimpin oleh seorang amirul Hajj. Setelah Perang Dunia I, raja Arab Saudi kemudian mendirikan pabrik pembuatan kiswah yang terletak di Kampung Jiyad, Mekkah. Pada tahun 1931, pabrik tersebut mulai memproduksi kiswah dengan menggunakan mesin tenun modern. Pabrik seluas 10 hektar tersebut menampung 240 perajin kiswah. Di pabrik tersebut, proses pembuatan kiswah berlangsung, mulai dari perencanaan, pembuatan gambar prototipe kaligrafi, pencucian benang sutra, perajutan kain dasar, pembuatan benang dari berkilo-kilo emas murni dan perak hingga pemintalan kaligrafi dari benang emas maupun perak, lalu penjahitan akhir.
Untuk membuat sebuah kiswah, diperlukan 670 kg bahan sutra atau sekitar 600 meter persegi kain sutra yang terdiri dari 47 potong kain. Tiap potongan kain tersebut berukuran panjang 14 meter dan lebar 95 cm. Ukuran itu sudah disesuaikan dengan bidang kubus Kabah pada keempat sisinya. Sementara, untuk hiasan berupa pintalan emas diperlukan 120 kg emas dan beberapa puluh kg perak.

Perpaduan warna emas dan perak pada kaligrafi yang menghiasi kiswah tersebut memiliki nilai seni yang luar biasa. Kaligrafi yang digunakan untuk menghias kiswah terdiri dari ayat-ayat yang berhubungan dengan haji dan Kabah juga asma-asma Allah yang dimuliakan. Hiasan kaligrafi yang terbuat dari emas dan perak tampak berkilau indah saat terkena cahaya matahari. Karena menggunakan bahan baku dari benda-benda yang sangat berharga seperti sutra, emas, dan perak, harga kiswah pun menjadi sangat mahal, yaitu sekitar Rp50 milyar.

Kiswah diganti setiap tahun, tepatnya pada 9 Dzulhijjah. Tanggal tersebut dipilih karena bertepatan dengan hari wukufnya jamaah haji di Arafah dan menjadikan kawasan Masjidil Haram sepi dari pengunjung. Ketika Masjidil Haram sedang sepi itulah, proses pencucian dan pembersihan Kabah dilakukan. Kabah pun memakai baju baru pada hari itu.

Masa pakai kiswah memang hanya satu tahun. Kiswah yang telah dipakai kemudian dipotong-potong dan potongan tersebut ada yang dijual sebagai penghias rumah maupun kantor.

0 komentar em “Sejarah kain penutup Kabah (Kiswah)”

Poskan Komentar