Warung Bebas
Tampilkan postingan dengan label Masjid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 November 2012

Mengenal Masjid Al-Aqsha


Masjid-Al-Aqsa
Majid Al-Aqsha merupakan salah satu tempat suci agama Islam yang menjadi bagian dari kompleks bangunan suci di Kota Lama Yerusalem. Dikenal oleh umat Islam dengan sebutan Al-Haram Asy-Syarif atau "tanah suci yang mulia". Tempat ini oleh umat Yahudi dan Kristen dikenal pula dengan sebutan Bait Suci. Masjid Al-Aqsha dikenal oleh umat Islam karena Nabi Muhammad SAW, di-Isra-miraj -kan dari masjid Al-Haram di Mekah ke masjid Al-Aqsha di Yerusalem.
Masjid Al-Aqsha diperbarui pembangunannya oleh Nabi Yakub, diteruskan Nabi Daud dan Sulaiman. Ketika Nabi Muhammad saw melakukan Isra Miraj, Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Aqsha merupakan lapangan terbuka, belum seperti sekarang ini. Sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw, Masjid Al-Aqsha itu dikenal juga oleh penduduk Mekah sebagai Baitul Maqdis, karena mereka sering ke Syam (Syiria) untuk melakukan hubungan dagang. Kesempatan itu digunakan untuk berziarah ke Yerusalem, wilayah Palestina.

Masjid Al-Aqsha artinya "masjid terjauh", yaitu terjauh dari masjid Al-Haram (Kabah). Masjid Al-Aqsha dinamakan juga dengan Baitul Maqdis, berasal dari bahasa Yahudi atau Ibrani "Bethammikdhash" yang berarti tanah suci.

Masjid Al Aqsha yang terletak di kota Yerusalem di wilayah Palestina adalah kiblat pertama umat Islam di kala mendirikan shalat, lebih kurang 16 atau 17 bulan saat Nabi Muhammad saw berada di Madinah. Kemudian Allah swt memerintahkan agar kiblat dipindahkan ke arah Kabah di Masjid Al-Haram (tercantum dalam Al Baqarah ayat 144).
Masjid Al-Aqsa pada awalnya adalah rumah ibadah kecil yang didirikan oleh Umar bin Khattab, salah seorang Khulafaur Rasyidin, tetapi telah diperbaiki dan dibangun kembali oleh Khalifah Umayyah Abdul Malik dan diselesaikan oleh putranya Al-Walid pada tahun 705 Masehi.
Setelah gempa bumi tahun 746, masjid ini hancur seluruhnya dan dibangun kembali oleh Khalifah Abbasiyah Al-Mansur pada tahun 754, dan dikembangkan lagi oleh penggantinya Al-Mahdi pada tahun 780.
Gempa berikutnya menghancurkan sebagian besar Al-Aqsa pada tahun 1033, namun 2 tahun kemudian Khalifah Fatimiyyah Ali Azh-Zhahir membangun kembali masjid ini yang masih tetap berdiri hingga kini.
Dalam berbagai renovasi berkala yang dilakukan, berbagai dinasti kekhalifahan Islam telah melakukan penambahan terhadap masjid dan kawasan sekitarnya, antara lain pada bagian kubah, fasad, mimbar, menara, dan interior bangunan.
Ketika Tentara Salib menaklukkan Yerusalem pada 1099, mereka menggunakan masjid ini sebagai istana dan gereja, namun fungsi masjid dikembalikan seperti semula setelah Shalahuddin merebut kembali kota itu. Renovasi, perbaikan, dan penambahan lebih lanjut dilakukan pada abad-abad kemudian oleh para penguasa Ayyubiyah, Mamluk, Utsmaniyah, Majelis Tinggi Islam, dan Yordania. Saat ini, Kota Lama Yerusalem berada di bawah pengawasan Israel, tetapi masjid ini tetap berada di bawah perwalian lembaga wakaf Islam pimpinan orang Palestina.

Rabu, 03 Oktober 2012

Mengapa Lantai Masjidil Haram Tidak Panas?


lantai-masjidil-haramMungkin ada di antara kita pernah mengujungi Masjidil Haram sama ada bagi menunaikan ibadah haji mahupun ibadah umrah. Namun bagi yang berpengalaman ke sana, mungkin tertanya-tanya mengapakah lantai di Masjidil Haram tidak panas sedangkan cuaca pada ketika itu benar-benar panas sehingga mencecah lebih 40 darjah.
Melakukan tawaf (mengelilingi Kaabah) di malam dan siang hari memang berbeza. Jika malam hari, cuaca cukup sejuk. Oleh itu, orang sekitar Mekkah jika ingin melakukan umrah biasanya dilakukan pada malam hari.
Begitu juga dengan warga di sekitar Kota Makkah seperti Jeddah. Warga di bandar yang terletak sekira satu jam perjalanan dari Mekah ini, biasanya keluar pada petang hari agar boleh sembahyang Maghrib berjamaah sekaligus melakukan umrah.

“Kebiasaan orang di sini begitu. Agak pelik kalau berangkat ke Makkah untuk umrah pada pagi hari,” kata guide MCH Jeddah, Sahe, yang sudah tinggal 23 tahun di Arab Saudi.
Memang suhu di Makkah belakangan ini cukup panas berkisar antara 40-42 darjah celsius. Bandingkan dengan Jakarta yang puncak panasnya berada di kisaran 37 darjah celcius. Puncak panas biasanya terjadi pada pukul 15.00 waktu setempat. Setelah itu, terus menurun hingga malam hari.
Memang keadaannya sangat jauh berbeza. Jika malam hari, melakukan tawaf tidak terlalu menguras tenaga.
Berbeza halnya jika tawaf dilakukan siang hari. Keringat sudah pasti bercucuran kerana panas matahari yang menyengat.
Meski demikian yang unik, meski mengelilingi Kaabah tanpa alas kaki, namun telapak tidak terasa panas sama sekali. Padahal tempat tawaf merupakan ruang terbuka, panas matahari langsung menerpa lantai marmar.
Ini berberda dengan lantai di jalan hendak keluar dari pintu Marwah. Saat berjalan, telapak kaki berasa sangat panas tab berjalan di atas bara api. Kami berjinjit dan berlari kecil untuk mengelakkan panas tersebut.
Lalu kenapa di lantai tempat tawaf dan di luar masjidil haram berbeza 180 darjah. Ini menimbulkan rasa ingin tahu. Salah satu ummal (cleaning service) di Masjidil Haram, Udin (40), mengatakan di bawah Kaabah dan tempat tawaf memang dipasang air conditioner agar telapak kaki peziarah tidak melepuh, kepanasan.
Setelah membaca buku Sami bin Abdullah al Maghlouthm ‘Atlas Haji dan Umrah’ dan sumber lain, barulah terungkap. Awalnya, tempat tawaf tidak berubin marmar seperti saat ini. Dulu hanyalah hamparan pasir lapang. Barulah pada masa Abdullah Ibnu Zubair. Ubinnya saat itu bergaris lima meter dari Kaabah, hingga 1375 Hijrah atau 1954 M di masa Raja Abdul Aziz sumbangan marmar terus berdatangan. Kini lantai marmar untuk tawaf terbuat dari marmar high terbaik yang mampu menahan teriknya panas matahari.
Awalnya lokasi tawaf tidak seluas sekarang, terdapat bangunan di atas Maqam Ibrahim dan juga gerbang pintu masuk telaga Zamzam.
Pada masa Raja Faisal pengubahsuaian dilakukan melanjutkan tempoh Raja Saud, di antaranya adalah pembongkaran bangunan di atas Maqam Ibrahim, sehingga lokasi untuk tawaf lebih lebar dari sebelumnya.
Pada masa Raja Khalid, perluasan laman untuk tawaf kembali dikembangkan. Gerbang menuju telaga zamzam dipindahkan ke dekat serambi masjid sebelah timur. Kerana itulah area tawaf menjadi lebih luas dari 3.298 meter menjadi 8.500 meter, seluruh bahagian Masjidil Haram lama menjadi tempat tawaf.
Kemudian, pengubahsuaian dilanjutkan pada masa Raja Fahd. Dibangunlah ruangan bawah tanah. Tak hanya itu, tingkat bawah tanah juga dilengkapi dengan pengatur hawa dingin. Pusat enjin dibina di kawasan Ajyad. Air sejuk dialirkan di tingkat bawah tanah berasal dari tempat yang sama.
Jadi wajar saja, jika lantai yang digunakan untuk tempat tawaf tidak berasa panas sekalipun suhu udara sangat panas. Ini adalah bentuk perkhidmatan Kerajaan Kerajaan Arab Saudi terhadap jamaah yang setiap tahun harus meninggalkan sanak keluarga di negara mereka demi melaksanakan Rukun Islam ke-5.


Sabtu, 05 Mei 2012

Masjid Quba Masjid Tertua di Dunia

Masjid atau mesjid merupakan rumah tempat ibadah bagi umat Muslim. Masjid artinya tempat sujud. Selain tempat ibadah masjid juga merupakan pusat kehidupan komunitas muslim. Kegiatan - kegiatan perayaan hari besar, diskusi, kajian agama, ceramah dan belajar Al Qur'an sering dilaksanakan di Masjid. Bahkan dalam sejarah Islam, masjid turut memegang peranan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan. Tahukah anda masjid apa yang pertama kali dibangun dan menjadi masjid tertua di dunia?




Masjid Quba adalah masjid pertama dan merupakan mesjid tertua di dunia yang dibangun oleh Nabi Muhammad saw pada tahun 1 Hijriyah atau 622 Masehi di Quba, sekitar 5 km di sebelah tenggara kota Madinah. Dalam Al Qur'an disebutkan bahwa masjid Quba adalah mesjid yang dibangun atas dasar takwa (Surat At Taubah:108).

Allah SWT memuji masjid ini dan orang yang mendirikan sembahyang di dalamnya dari kalangan penduduk Quba' dengan Firman-Nya:
“Janganlah kamu shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah SWT menyukai orang-orang yang bersih.”

Menurut ulama tafsir, umat Islam tidak diperkenankan bersikap egois dalam meraih kemulian. Shalat berlama-lama, bahkan hingga tinggal di dalam masjid tersebut, sementara yang lainnya tidak bisa memasukinya, sangat dibenci Allah SWT.

Masjid itu dibangaun berdasarkan ketaqwaan kepada Allah, maka sejatinya umat Islam pun bisa beribadah di dalamnya dengan penuh taqwa kepada-Nya

SEJARAH MASJID QUBA
Masjid Quba merupakan masjid yang pertama kali dibangun di atas sebidang tanah milik keluarga Kalsum bin Hadam dari Kabilah Amir bin Auf yang diwakafkannya kepada beliau setiba di Quba.
Ketika itu, Quba merupakan sebuah kawasan pinggiran Yatsrib dan terletak sekitar tiga kilometer di selatan.

Rasulullah sendiri yang mendesain masjid itu. Bahkan beliau ikut bekerja, tidak segan-segan mengangkat bahan material bangunan, sehingga tampak letih yang teramat sangat pada wajahnya yang mulia. Nabi Muhammad SAW menunjukkan suri teladan yang begitu mulia, yang tak hanya pandai menyuruh.
Rasulullah SAW juga orang pertama yang meletakkan batu di mihrab masjid tersebut menghadap ke Baitul Maqdis di Palestina, kiblat pertama umat Islam, kemudian disusul berturut-turut oleh Abu Bakar Assidiq, Umar bin Khaththab, dan Utsman bin Affan. Siapakah yang menduga, ternyata proses peletakan batu kiblat ini kemudian paralel dengan sejarah pengangkatan Khulafaur Rasyidin. Setelah rampung, di masjid inilah untuk kali pertama shalat berjama’ah dilaksanakan.

Ketika peralihan arah kiblat umat Islam menghadap ke Masjidil Haram, masjid itu tentu mengalami rekonstruksi. Arah kiblat, yang semula menghadap ke Baitul Maqdis di Palestina, diputar balik menghadap ke arah Baitullah di Makkah.

Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, masjid itu, yang kerap dikunjungi oleh Baginda Rasulullah SAW tiap hari Sabtu bila beliau bertugas di luar Madinah, diperbaiki karena rusak berat.

BANGUNAN MASJID QUBA
Meskipun sangat sederhana, masjid Quba boleh dianggap sebagai contoh bentuk dari pada masjid-masjid yang didirikan orang di kemudian hari. Bangunan yang sangat bersahaja itu sudah memenuhi syarat-syarat yang perlu untuk pendirian masjid. Ia sudah mempunyai suatu ruang yang persegi empat dan berdinding di sekelilingnya.

Di tengah-tengah masjid terdapat ruang terbuka yang biasa disebut sahn. Dan di sahn itulah ada sebuah sumur tempat mengambil air wudhu. Kebersihan area masjid itu begitu terjaga dan cahaya matahari serta udara dapat masuk.

Kini, masjid yang terletak sekitar lima kilometer di sebelah tenggara kota Madinah ini telah mengalami perbaikan dan perluasan berkali-kali.

Bangunan fisiknya mengalami banyak perkembangan. Salah satunya, keempat menara setinggi 47 meter yang mengelilingi masjid berwarna putih bersih. Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah orang pertama yang membangun menara pada masjid ini.

Rekonstruksi kembali terjadi pada masa Sultan Al-Asyraf Saif Al-Din Qait-Bey dari Dinasti Mamluk. Masjid tersebut dilengkapi dengan sebuah mimbar baru dari pualam. Mimbar itu kemudian diganti dengan mimbar yang terkenal dengan sebutan “Mimbar Masjid Raya”.

Kemudian pada masa kepemimpinan Raja Fahd ibn Abdul Aziz tahun 1986, Masjid Quba kembali direnovasi dan diperluas, menelan biaya  90 juta riyal (Rp.90.000.000.000,-). Hingga saat ini, inilah renovasi terbesar masjid tersebut, tapi tetap mempertahankan bentuk arsitektur tradisionalnya.

Di sisi selatan masjid dibuat galeri terbuka dengan deretan tiang. Sedangkan di sisi sebelah utara terdapat dua serambi bertiang. Di sebelah timur dan barat terdapat tempat terbuka dengan dinding tembok berbeton. Pada bagian atasnya berjejer sebanyak enam kubah besar, masing-masing berdiameter 12 meter, serta 56 kubah kecil yang masing-masing berdiameter enam meter. Kubah-kubah tersebut ditopang oleh pilar-pilar beton yang sangat kokoh.

Sementara lantai halaman, yang terbuka, dilapisi marmer yang anti panas. Di bagian ini terdapat atap yang dapat bergerak, terbuka dan tertutup otomatis, serta terpal yang sangat kokoh, yang melindungi lantai atau jama’ah dari sengatan matahari.

Masjid ini memiliki 19 pintu, terdiri dari tiga pintu utama. Tiga pintu utama, yang berdaun pintu besar, diperuntukkan bagi para jama’ah yang ingin memasuki masjid mulia itu. Dua pintu diperuntukkan bagi jama’ah laki-laki, sedangkan satu pintu bagi jama’ah perempuan. Berbagai petunjuk dan informasi khusus ditempatkan pada dinding luar masjid dan di dinding pintu. Di seberang ruang utama masjid, terdapat ruangan yang dijadikan tempat belajar-mengajar.

Sakarang yang bertanggung jawab atas renovasi masjid ini adalah keluarga Saud.
Kompleks masjid ini memiliki luas 135.000 meter persegi. Sementara ruang shalat utama seluas 5.035 meter persegi, yang bisa menampung hingga 20.000 jama’ah. Masjid ini, sebelum diperluas, pada zaman Rasulullah, hanya memiliki luas 1.200 meter persegi.

Di kompleks masjid ini terdapat kantor, pertokoan, dan ruang tamu. Kompleks masjid juga dilengkapi dengan tempat tinggal imam dan muadzin.

Berikut adalah beberapa foto dari Masjid Quba:












 ditulis dari berbagai sumber

Selasa, 19 April 2011

Kisah Orang Miskin (Harta) Yang Membangun Mesjid





Bentuknya sederhana benar,  namun jemaah sudah berdatangan dari penjuru desa sebelum waktu solat masuk . Mungkin kita tak percaya jika tidak melihat faktanya.  Seorang yang tidak kaya,  bahkan tergolong miskin,  namun mampu membangun sebuah Masjid di Turki.  Nama masjidnya pun paling aneh di dunia,  iaitu “Shanke Yadem” (Anggap Saja Sudah Makan). 
Sangat aneh bukan? Di sebalik masjid yang namanya paling aneh tersebut ada cerita yang sangat menarik dan mengandungi pelajaran yang sangat berharga bagi kita.

Ceritanya begini :

Di sebuah kawasan Al-Fateh,  di pinggiran kota Istanbul ada seorang yang wara’ dan sangat sederhana,  namanya Khairuddin Afandi.  Setiap kali ke pasar dia tidak membeli apa-apa.  Saat merasa lapar dan ingin makan atau membeli sesuatu,  seperti buah,  daging atau manisan,  dia berkata pada dirinya: Anggap saja sudah makan yang dalam bahasa Turkinya “ Shanke Yadem”.

Nah,  apa yang dia lakukan setelah itu? Uang yang sepatutnya digunakan untuk membeli keperluan makanannya itu dimasukkan ke dalan kotak (tromol)… Begitulah yang dia lakukan setiap bulan dan sepanjang tahun.  Dia mampu menahan dirinya untuk tidak makan dan belanja kecuali sebatas menjaga kelangsungan hidupnya saja.

Hari berganti hari,  bulan berganti bulan,  tahun berganti tahun Khairuddin Afandi konsisten dengan amal dan niatnya yang kuat untuk mewujudkan impiannya membangun sebuah masjid.  Tanpa terasa,  akhirnya Khairuddin Afandi mampu mengumpulkan dana untuk membangun sebuah masjid kecil di daerah tempat tinggalnya.  Bentuknya pun sangat sederhana,  sebuah pagar persegi empat,  ditandai dengan dua menara di sebelah kiri dan kanannya,  sedangkan di sebelah arah kiblat ditengahnya dibuat seperti mihrab.

Akhirnya,  Khairuddin berhasil mewujudkan cita-ciatanya yang amt mulia itu dan masyarakat di sekitarnyapun merasa keheranan,  bagaimana Khairuddin yang miskin itu di dalam dirinya tertanam sebuah cita-cita mulia,  iakni membangun sebuah masjid dan berhasil dia wujudkan.  Tidak bayak orang yang menyangka bahwa Khairudin ternyata orang yang sangat luar biasa dan banyak orang yang kaya yang tidak mampu berbuat kebaikan seperti Khairuddin Afandi.

Setelah masjid tersebut berdiri,  masyarakat penasaran apa gerangan yang terjadi pada Khiruddin Afandi.  Mereka bertanya bagaimana ceritan seorang yang miskin sukses membangun masjid.  Setelah mereka mendengar cerita yang sangat menakjubkan itu,  merekapun sepakat memberi namanya dengan: “Shanke yadem” (Anggap Saja Saya Sudah Makan).

Subhanallah! Sekiranya orang-orang kaya dan memiliki penghasilan lebih dari kaum Muslimin di dunia ini berfikir seperti Khairuddin,  berapa banyak dana yang akan terkumpul untuk kaum fakir miskin? Berapa banyak masjid,  sekolah,  rumah sakit dan fasilitas hidup lainnya yang dapat dibangun? Berapa banyak infra struktur yang dapat kita realisasikan,  tanpa harus meminjam ke lembaga dan Negara yang memusuhi Islam dan umatnya?